MAPALA UNISI Yogyakarta

Quote Hari ini

Elbert Hubbard
Genius may have its limitations, but stupidity is not thus handicapped.
 

Login Form






Lost Password?
No account yet? Register

Ngobrol Bareng

Latest Message: 1 week, 2 days ago

You have to login before you can shout!


Designed by:
SiteGround web hosting Joomla Templates
Home arrow Artikel
Artikel
Setitik cahaya didalam goa bagai terangnya matahari dibumi PDF
Written by Admin   
Saturday, 20 March 2010

Setitik cahaya didalam goa bagai terangnya matahari dibumi



     Dua puluh februari duaribu sepuluh, aku dan sodara-sodara ku mengahabiskan weekend di goa cerme, imogiri.
Persiapan yang diawali dari mulai breafing hingga packing-packing di kamar jenazah posko MAPALA UNISI cikditro no.1 jogja yang gak pernah mati sampai hari H keberangkatan.
 
    Sabtu sore yang lumayan cerah, lagi-lagi jam Indonesia yang ngaret selama setengah jam dari ROP, tapi tak menyurutkan langkah kami di sore itu. Pukul 16.30 WIB keberangkatan menuju bascame. Melewati jalanan jogja yang gak pernah sunyi, ditemani dengan warna langit yang lambat laun berubah mendung, matahari pun berganti dengan bulan, bertanda malam telah tiba, hampir sampai bascame ada saja yang terjadi dengan si HITAM, motor mio kesayangan ku, huftfff. Bannya bocor, utung saja dengan bantuan sodara-sodara ku semuanya terselesaikan dan melanjutkan perjalanan yang tak jauh dari tempat kejadian.

     Takjub aku melihat suasana malam itu, suasana perkampungan yang tak begitu terang benderang, ditambah lagi bisa melihat lampu-lampu jogja dari kegelapan sayup-sayup bascame dimalam itu. Sesampai di bascame pukul 18.30, tak banyak basa-basi karena logika gak jalan tanpa logistic, makan bersama, berderet berhadap-hadapan membentuk dua syaf, dihadapkan dengan menu nasi ayam sayur dengan air mineral sangat menggugah selera di malam itu. Tentunya berdoa sebelum makan, yang sudah pasti tak terlewatkan adegan narsis segala pose alias berfoto-foto. Makan malam dengan menu yang lezat, bergizi pula di nikmati dengan lahap, dan dilanjutkan menunaikan sholat. Sebelum melakukan penusuran goa alias caving, harus di awali dengan strecing dimalam hari, supaya meregangkan otot-otot yang lumayan kaku dan tak jarang saling melemparkan lelucun satu sama lain. Yah,, ini lah persaudaraan, semakin sering di ejek dan di hina, semakin sayang yang menumpuk menjadi satu dengan seiring kedekatan emosi.

    20.30 saat yang ditunggu-tunggu, penusuran goa dimulai, yeach…. Tentunya ini pertamakalinya bagiku menusuri goa, yang aku tahu didalam sana gelap, setitik cahaya akan terlihat dengan jelas. Masih di mulut goa, berdoa adalah hal yang paling utama sebelum mengerjakan hal apapun, yang pasti meminta ridho dan perlindungan ALLAH SWT. Tentunya, tak hanya berdoa dilengkapi juga dengan usaha melindungi diri sendiri. Berpose berderet menghadap kamera adalah sebuah moment menyenangkan, memasuki mulut goa mengucapkan salam terlebih dahulu dan jangan pernah meninggalkan apapun kecuali jejak, jangan pernah mengambil apapun kecuali foto. Karena alam yang ada memang harus dijaga dan disayangi, bukannya di rusak atau malah disia-siakan. Benar-benar menyenangkan, walau masih di mulut goa aku sudah cukup merasakan ketenangan di dalam kegelapan malam itu, satu persatu ornament-ornamen yang ada di goa itu kami perhatikan dengan seksama, memang indah, dari ornament berbatuan air mengalir sedikit demi sedikit, dan tetunya mendengarkan penjelasan dari abang-abang kami yang selalu siap sedia mentransfer ilmu, ornament-ornamen yang sebelumnya belum pernah kulihat begitu dekat, dan ini semua adalah salah satu dari tak terhingga keagungan ALLAH SWT, betapa ohhh…. betapa, didalam goa sana, dengan aliran air bisa kami telusuri. Sebelumnya kami sempat dengar desas desus kalau di goa sedang banjir, sampai-sampai ada beberapa sodara ku harus memakai pelampung, namun kenyataannya tidak, yah,,, cukup membuat fikiran bertanya-tanya benar atau tidak.
 
    Kami berjalan pelan-pelan, kiri kanan di perhatikan dan tak ketinggalan adegan pose. Aliran air yang cukup tenang dengan dasar pasir dan batu-batuan, hampir setengah perjalaan, kami beristirahat sambil menikmati logistic yang memang sudah dibawa dari jogja, satu persatu logistic dimakan saling mengoper satu sama lain, serta menikmati gelapnya goa tanpa setitik cahaya. Sejenak kami menikmati kegelapan abadi itu, diam, sunyi, dan aku merasa tenang juga damai. Ternyata ada beberapa saudaraku menikmati gelapnya goa sambil tertidur walau tak pulas, hahhaah,,,, tawa memecahkan keheningan sejenak itu dan kembali lagi hiruk piruk suara serta cahaya-cahaya penerangan kami melanjutkan penusuran goa yang memang jalannya belum putus hingga mulut goa.

    Jalan jongkok menusuri jalan yang sangat pendek bahkan melewati aliran air terjun yang dinginnya air hilang begiu saja dengan banyak bergerak berlari-lari kecil, sambil berenang-renang kecil juga harus merelakan diri dari ujung rambut hingga ujung kaki basah dengan aliran air goa, pelan-pelan tapi pasti menusuri goa, butuh kesabaran, kekuatan untuk bertahan dalam kondisi apapun, dan tak lepas dari semangat yang harus tetap ada sampai kapanpun, walau kaki mulai merasa lunglai, tapi rasa sakit itu hanya ada diotak dan akan pergi begitu saja dengan semangat yang gak boleh putus oleh apapun. Penusuran selama tiga jam tak terasa sudah terlewati, sampai dimulut goa untuk keluar dari goa, satu persatu anak tangga dinaiki hingga sampai kepermukaan tanah dan melewati pipa aliran air tanah dan juga masih melewati jalan yang endek dengan jalan jongkok. Yeachh,,,, pukul 23.00 penusuran goa pun berakhir, istirahat sejenak dan melanjutkan perjalan ke bascame yang ternyata lumayan jauh harus dilalui. Packing dan cek alat hingga pukul 00.15 juga bersih-bersh diri setelah penusuran.
 
    Pukul 00.15 saatnya balik ke posko, pulang ke benderangan cahaya lampu-lampu kota, yang ternyata masih sangat indah setitik cahaya di dalam goa sana, perjalanan yang memang gak begitu jauh, dan terasa dekat lagi kalau perjalanan pulang ketimbang berangkat. Sambil menikmati suasana yang memang bagus untuk di nikmati menembus angin malam menjelang pagi. Pukul 01.07 sampai juga di posko, dan langsung cuci alat, lumayan lah banyak alat yang harus di cuci, hingga pukul 02.15 sambil menceritakan pengalaman-pengalaman saat GC, memang gak ada habisnya kalau bercerita tentang kenangan-kenangan itu semalaman suntuk juga gak ada bosannya, ada yang lucu, atau malah bikin emosi semuanya lengkap menjadi satu bersama sodara-sodara.

    Sambil menunggu alat kering, pukul 02.15 evaluasi, mengevaluasi seluruh rangkaian perjalanan, dari mulai berangkat dari jogja sampai ke goa cèrme, hingga kembali lagi kejogja. Tentunya banyak mendapat pelajaran baru dalam hidup, pengalaman baru, cerita-cerita hidup baru dan tentunya sangat menyenangkan bagiku, karena setiap langkah kaki adalah perjalanan hidup yang memiliki makna, pelajaran, pengalaman baru. Evaluasi semua rangkaian kegiatan hari itu dan bisa lebih baik lagi saat susur goa selanjutnya. 02.40 evaluasi selesai, dan berakhir lah malam itu, hingga menanti mentari terbit kembali dengan memejamkan mata, serta membawa pengalaman baru dengan bunga-bunga tidur yang indah. Karena kegelapan abadi yang ku temukan di dalam goa tanpa setitk cahaya sekalipun.






Bernyanyi lewat lirik yang dirangkai dengan kata-kata
Menari jari-jari ku menulis rangkaian kata-kata
Menggambar imajinasi mengumpulkan inspirasi merangkai kata-kata
Berteriak emosi ku mengalahkan kejenuhan merangkai kata-kata
Karena aku akan tetap berkarya
Dan aku tak akan berhenti menulis,, menulis,, dan terus menulis


 
          by
       -Bege-
Last Updated ( Friday, 20 August 2010 )
 
Tips dalam Keselamatan Gempa Bumi PDF
Written by Admin   
Monday, 12 October 2009
Informasi ini saya dapat dari Catatan Siti H Rahmawati dari seorang teman di Habitat For Humanity (HFH) Indonesia. Semoga bermanfaat bagi kita semua yang tinggal di ring of fire.

Saya Doug Copp, Kepala Penyelamat dan Manajer Bencana dari American Rescue
Team International (ARTI), tim penyelamat paling berpengalaman di dunia.

Informasi dalam artikel ini dapat menyelamatkan nyawa anda dari gempa bumi.

Saya telah merangkak di bawah 875 reruntuhan bangunan, bekerja sama dengan tim penyelamat dari 60 negara, dan mendirikan tim penyelamat di beberapa negara serta salah satu dari ahli PBB untuk Mitigasi Bencana selama 2 tahun.

Saya telah bekerja di seluruh bencana besar di dunia sejak tahun 1985. Pada tahun 1996 kami membuat film yang membuktikan keakuratan metode bertahan hidup yang saya buat. Kami meruntuhkan sebu ah sekolah dan rumah dengan 20 boneka di dalamnya. 10
boneka "menunduk dan berlindung" dan 10 lainnya menggunakan metode bertahan hidup "segitiga kehidupan". Setelah simulasi gempa, kami merangkak ke dalam puing-puing dan masuk ke dalam bangunan untuk membuat dukumentasi film mengenai hasilnya. Film itu menunjukkan bahwa mereka yang menunduk dan berlindung tidak dapat bertahan hidup dan mereka yang menggunakan metode saya "segitiga kehidupan" bertahan hidup 100%.

Film ini telah dilihat oleh jutaan orang melalui televisi di Turki dan sebagian Eropa, dan disaksikan pada program televisi di USA, Canada dan Amerika Latin. Bangunan pertama yang saya masuki adalah sebuah sekolah di Mexico City pada gempa bumi tahun 1985. Semua anak berlindung di bawah meja masing-masing. Semua anak remuk sampai ke tulang mereka. Mereka mungkin dapat selamat jika berbaring di samping meja masing-masing di lorong.

Pada saat itu, murid-murid diajarkan untuk berlindung di bawah sesuatu. Secara sederhana, saat bangunan runtuh,langit-langit akan runtuh menimpa benda atau furnitur sehingga menghancurkan benda-benda ini, menyisakan ruangan kosong di seb elahnya. Ruangan kosong ini lah yang saya sebut "segitiga kehidupan".

Semakin besar bendanya, maka semakin kuat benda tersebut dan semakin kecil kemungkinannya untuk remuk. Semakin sedikit remuk, semakin besar ruang kosongnya, semakin besar kemungkinan untuk orang yang menggunakannya untuk selamat dari luka-luka.

Suatu saat anda melihat bangunan runtuh di televisi, hitunglah "segitiga kehidupan" yang anda temui. Segitiga ini ada di mana-mana dan merupakan bentuk yang umum.

Sepuluh Tips dalam Keselamatan Gempa Bumi :

1. Hampir semua orang yang hanya "menunduk dan berlindung" pada saat
bangunan runtuh meninggal karena tertimpa runtuhan. Orang-orang yang berlindung di bawah suatu benda akan remuk ba dannya.

2. Kucing, anjing dan bayi biasanya mengambil posisi meringkuk secara alami.
Itu juga yang harus anda lakukan pada saat gempa. Ini adalah insting alami untuk menyelamatkan diri. Anda dapat bertahan hidup dalam ruangan yang sempit. Ambil posisi di samping suatu benda, di samping sofa, di samping benda besar yang akan remuk sedikit tapi menyisakan ruangan kosong di sebelahnya.

3. Bangunan dari kayu adalah tipe konstruksi yang paling aman selama gempa
bumi. Kayu bersifat lentur dan bergerak seiring ayunan gempa. Jika bangunan kayu ternyata tetap runtuh, banyak ruangan kosong yang aman akan terbentuk. Disamping itu, bangunan kayu memiliki sedikit konsentrasi dari bagian yang berat.

Bangunan dari batu bata akan hancur berkeping-keping. Kepingan batu bata akan mengakibatkan luka badan tapi hanya sedikit yang meremukkan badan dibandingkan beton bertulang.

4. Jika anda berada di tempat tidur pada saat gempa terjadi, berguling lah ke samping tempat tidur. Ruangan kosong yang aman akan berada di samping tempat tidur. Hotel akan memiliki tingkat keselamatan yang tinggi dengan hanya menempelkan peringatan di belakang pintu agar tamu-tamu berbaring di lantai di sebelah tempat tidur jika terjadi gempa.

5. Jika terjadi gempa dan anda tidak dapat keluar melalui jendela atau
pintu, maka berbaring lah meringkuk di sebelah sofa atau kursi besar.

6. Hampir semua orang yang berada di belakang pintu pada saat bangunan runtuh akan meninggal. Mengapa? Jika anda berdiri di belakang pintu dan pintu tersebut rubuh ke depan atau ke belakang anda akan tertimpa langit-langit di atasnya. Jika pintu tersebut rubuh ke samping, anda akan tertimpa dan terbelah dua olehnya. Dalam kedua kasus tersebut, anda tidak akan selamat!

7. Jangan pernah lari melalui tangga. Tangga memiliki "momen frekuensi" yang berbeda (tangga akan berayun terpisah dari bangunan utama). Tangga dan bagian lain dari bangunan akan terus-menerus berbenturan satu sama lain sampai terjadi kerusakan struktur dari tangga tersebut. Orang-orang yang lari ke tangga sebelum tangga itu rubuh akan terpotong-potong olehnya. Bahkan jika bangunan tidak runtuh, jauhi lah tangga. Tangga akan menjadi bagian bangunan yang paling mungkin untuk rusak.

Bahkan jika gempa tidak meruntuhkan tangga, tangga tersebut akan runtuh juga
pada saat orang-orang berlarian menyelamatkan diri.

Tangga tetap harus diperiksa walaupun bagian lain dari bangunan tidak rusak.

8. Berdirilah di dekat dinding paling luar dari bangunan atau di sebelah
luarnya jika memungkinkan. Akan lebih aman untuk berada di sebelah luar
bangunan daripada di dalamnya.

Semakin jauh anda dari bagian luar bangunan akan semakin besar kemungkinan
jalur menyelamatkan diri anda tertutup.

9. Orang-orang yang berada di dalam kendaraan akan tertimpa jika jalanan di
atasnya runtuh dan meremukkan kendaraan; ini yang ternyata terjadi pada lantai-lantai jalan tol Nimitz. Korban dari gempa bumi San Fransisco semuanya bertahan di dalam kendaraan mereka dan meninggal.

Mereka mungkin dapat selamat dengan keluar dari kendaraan dan berbaring di sebelah kendaraan mereka. Semua kendaraan yang hancur memiliki ruangan kosong yang aman setinggi 1 meter di sampingnya, kecuali kendaraan yang tertimpa langsung oleh kolom jalan tol.

10. Saya menemukan, pada saat saya merangkak di bawah kantor perusahaan koran dan kantor lain yang menyimpan banyak kertas bahwa kertas tidak memadat. Ruangan kosong yang besar ditemukan di sekitar tumpukan kertas-kertas.

Sebarkan informasi ini dan selamatkan banyak nyawa... mungkin orang-orang
yang anda cintai.
 
Etika & Budaya Masyarakat Desa PDF
Written by Gege PM   
Monday, 24 November 2008
A.     MASYARAKAT DESA DALAM TINJAUAN SOSIAL BUDAYA

 

Pengertian desa menurut kamus Poerwadarminta (1976) adalah:

sekelompok rumah di luar kota yang merupakan kesatuan, kampung (di luar kota); dusun;… 2 dusun atau udik (dalam arti daerah pedalaman sebagai lawan dari kota);….”. Desa menurut kamus tersebut terutama dalam arti fisik. Lain lagi dengan istilah desa dalam rembug desa, yang berarti fisik, masyarakat dan pemerintahannya. Istilah lain yang memiliki pengertian hampir sama adalah village. Menurut The Random House Dictionary (1968), village adalah:

a small community or group of house in a rural  area usually smaller than a town and sometimes incorporated as a municipality


 
Asal-Usul Bahasa Indonesia PDF
Written by Lord Rhamirez   
Thursday, 20 November 2008
Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan tanggal bersejarah bagi bahasa Indonesia yang saat itu diresmikan menjadi bahasa negara dan menjadi bahasa persatuan dari sekian ratus bahasa daerah.

Namun seperti apakah yang dinamakan bahasa Indonesia itu? Orang mengenalnya sebagai bahasa Melayu yang dimodifikasi, lalu dicampur dengan bahasa-bahasa serapan dari berbagai daerah dan dari bahasa asing, kemudian dibakukan.

Dari manakah asal-usul bahasa Melayu itu? Apakah bahasa itu hanya dituturkan oleh etnis Melayu sejak berabad-abad lalu? Padahal etnis Melayu sendiri hanya sebagian kecil saja dari ratusan etnis di nusantara?

Arkeolog Harry Truman Simanjuntak mengatakan, bahasa Melayu dan ratusan bahasa daerah lainnya di nusantara sebenarnya berakar dari bahasa Austronesia yang mulai muncul sekitar 6.000-10.000 tahun lalu.

Penyebaran penutur bahasa Austronesia, ujar Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) itu, merupakan fenomena besar dalam sejarah umat manusia karena sebagai suatu rumpun bahasa, Austronesia merupakan yang terbesar di dunia, meliputi 1.200 bahasa dan dituturkan oleh hampir 300 juta populasi.

Masyarakat penuturnya tersebar luas di wilayah sepanjang 15 ribu km meliputi lebih dari separuh bola bumi, yaitu dari Madagaskar di barat hingga Pulau Paskah di ujung timur, dari Taiwan-Mikronesia di utara hingga Selandia Baru di selatan.

Out of Taiwan

Mengenai asal-usul penutur Austronesia, Harry mengatakan, ada beberapa hipotesa. Yang paling umum adalah hipotesa bahwa asal leluhur penutur Austronesia adalah Formosa (Taiwan) atau model Out of Taiwan.

Arkeolog lainnya Daud A Tanudirjo menyebutkan, Robert Blust adalah pakar linguistik yang paling lantang menyuarakan pendapat bahwa asal-usul penutur Austronesia adalah Taiwan.

Sejak 1970-an Blust telah mencoba merekonstruksi silsilah dan pengelompokan bahasa-bahasa dari rumpun Austronesia misalnya kosakata protobahasa Austronesia yang berkaitan dengan flora dan fauna serta gejala alam lain, kata Daud.

"Ia juga menawarkan rekonstruksi pohon kekerabatan rumpun bahasa Austronesia dan perkiraan waktu pencabangannya mulai dari Proto-Austronesia hingga Proto-Oseania," katanya.

Para leluhur ini, diungkapkan Daud, awalnya berasal dari China Selatan yang bermigrasi ke Taiwan pada 5.000-4.000 SM, namun akar bahasa Austronesia baru muncul beberapa abad kemudian di Taiwan.

Kosakata yang dapat direkonstruksi dari bahasa awal Austronesia yang dapat dilacak antara lain : rumah tinggal, busur, memanah, tali, jarum, tenun, mabuk, berburu, kano, babi, anjing, beras, batu giling, kebun, tebu, gabah, nasi, menampi, jerami, hingga mengasap.

Para petani purba di Taiwan ini berkembang cepat dan lalu terpecah-pecah menjadi kelompok-kelompok yang hidup terpisah dan bahasanya menjadi berbeda-beda dengan setidaknya kini ada sembilan bahasa yang teridentifikasi sebagai bahasa formosa.

Bermigrasi

Migrasi leluhur dari Taiwan ke Filipina mulai terjadi pada 4.500-3.000 SM. Leluhur ini adalah salah satu dari kelompok yang memisahkan diri. Mereka bermigrasi ke selatan menuju Kepulauan Filipina bagian utara yang kemudian memunculkan cabang bahasa baru yakni Proto-Malayo-Polinesia (PMP).

Tahap berikutnya, ujar Daud, terjadi pada 3.500-2.000 SM di mana masyarakat penutur bahasa PMP yang awalnya tinggal di Filipina Utara mulai bermigrasi ke selatan melalui Filipina Selatan menuju Kalimantan dan Sulawesi serta ke arah tenggara menuju Maluku Utara.

Proses migrasi ini membuat bahasa PMP bercabang menjadi bahasa Proto Malayo Polinesia Barat (PWMP) di kepulauan Indonesia bagian barat dan Proto Malayo Polinesia Tengah-Timur (PCEMP) yang berpusat di Maluku Utara.

"Rupanya ketika bermigrasi ke arah tenggara penanaman padi mulai ditinggalkan karena tidak sesuai dengan lingkungannya. Mereka mulai memanfaatkan tanaman keladi dan umbi-umbian lain serta buah-buahan," katanya.

Namun pada 3.000-2.000 SM leluhur yang ada di Maluku Utara bermigrasi ke selatan dan timur. Hanya dalam waktu singkat migrasi dari Maluku Utara mencapai Nusa Tenggara sekitar 2.000 SM yang kemudian memunculkan bahasa Proto Malayo Polinesia Tengah (PCMP).

Demikian pula migrasi ke timur yang mencapai pantai utara Papua Barat dan melahirkan bahasa-bahasa Proto Malayo-Polinesia Timur (PEMP).

Migrasi dari Papua Utara ke barat terjadi pada 2.500 SM dan ke timur pada 2.000-1.500 SM, di mana penutur PEMP di wilayah pantai barat Papua Barat melakukan migrasi arus balik menuju Halmahera Selatan, Kepulauan Raja Ampat, dan pantai barat Papua Barat yang kemudian muncul bahasa yang dikelompokkan sebagai Halmahera Selatan-Papua Nugini Barat (SHWNG).

Setelah itu kelompok lain dari penutur PEMP bermigrasi ke Oseania dan mencapai kepulauan Bismarck di Melanesia sekitar 1.500 SM dan memunculkan bahasa Proto Oseania.

"Sedangkan di Kepulauan Indonesia di bagian barat, setelah sempat menghuni Kalimantan dan Sulawesi, pada 3.000-2.000 SM, para penutur PWMP bergerak ke selatan, bermigrasi ke Jawa dan Sumatera," katanya.

Penutur PWMP yang asalnya dari Kalimantan dan Sulawesi itu lalu bermigrasi lagi ke utara antara lain ke Vietnam pada 500 SM dan Semenanjung Malaka, ujarnya.

Menjelang awal tahun Masehi, penutur bahasa WMP juga menyebar lagi ke Kalimantan sampai ke Madagaskar, tambah Daud.

Bentuk rumpun bahasa Austronesia ini lebih menyerupai garu daripada bentuk pohon. Karena semua proto-bahasa dalam kelompok ini, dari Proto Malayo Polynesia hingga Proto Oseania menunjukkan kesamaan kognat yang tinggi, yaitu lebih dari 84% dari 200 pasangan kata, katanya.

Dengan demikian, kata Harry Truman, hampir seluruh kawasan nusantara bahkan sampai ke kawasan negeri-negeri tetangga dan masyarakat kepulauan Pasifik dan Madagaskar menuturkan bahasa yang asal-muasalnya merupakan bahasa Austronesia.

"Kecuali masyarakat yang ada di pedalaman Papua dan pedalaman pulau Timor yang bahasanya lebih mirip dengan bahasa pedalaman Australia," katanya.

Bahasa Indonesia sekarang ini, kata Harry lagi, sudah sangat kompleks karena penuturnya tidak hanya hidup dengan sukunya masing-masing dan beradaptasi dengan rumpun bahasa dunia lainnya seperti dari India, Arab, Portugis, Belanda dan Inggris. (kpl/cax)

Last Updated ( Monday, 24 November 2008 )
 
Curah Hujan Bisa Tingkatkan Autisme PDF
Written by Lord Rhamirez   
Thursday, 20 November 2008
Dari hasil penelitian terbaru yang direkam dalam Archives of Pediatrics and Adolescent Medicine, dikabarkan bahwa peningkatan curah hujan atau sesuatu yang berkaitan dengannya bisa jadi berhubungan dengan perkembangan autisme.

Teori autisme curah hujan dilandasi atas catatan kesehatan anak dan cuaca dari tiga negara bagian AS, tapi telah disambut dengan sangat hati-hati oleh badan amal penelitian Inggris.

Last Updated ( Wednesday, 21 January 2009 )
Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>

Results 1 - 9 of 11