|
Setitik cahaya didalam goa bagai terangnya matahari dibumi Dua puluh februari duaribu sepuluh, aku dan sodara-sodara ku mengahabiskan weekend di goa cerme, imogiri. Persiapan yang diawali dari mulai breafing hingga packing-packing di kamar jenazah posko MAPALA UNISI cikditro no.1 jogja yang gak pernah mati sampai hari H keberangkatan. Sabtu sore yang lumayan cerah, lagi-lagi jam Indonesia yang ngaret selama setengah jam dari ROP, tapi tak menyurutkan langkah kami di sore itu. Pukul 16.30 WIB keberangkatan menuju bascame. Melewati jalanan jogja yang gak pernah sunyi, ditemani dengan warna langit yang lambat laun berubah mendung, matahari pun berganti dengan bulan, bertanda malam telah tiba, hampir sampai bascame ada saja yang terjadi dengan si HITAM, motor mio kesayangan ku, huftfff. Bannya bocor, utung saja dengan bantuan sodara-sodara ku semuanya terselesaikan dan melanjutkan perjalanan yang tak jauh dari tempat kejadian. Takjub aku melihat suasana malam itu, suasana perkampungan yang tak begitu terang benderang, ditambah lagi bisa melihat lampu-lampu jogja dari kegelapan sayup-sayup bascame dimalam itu. Sesampai di bascame pukul 18.30, tak banyak basa-basi karena logika gak jalan tanpa logistic, makan bersama, berderet berhadap-hadapan membentuk dua syaf, dihadapkan dengan menu nasi ayam sayur dengan air mineral sangat menggugah selera di malam itu. Tentunya berdoa sebelum makan, yang sudah pasti tak terlewatkan adegan narsis segala pose alias berfoto-foto. Makan malam dengan menu yang lezat, bergizi pula di nikmati dengan lahap, dan dilanjutkan menunaikan sholat. Sebelum melakukan penusuran goa alias caving, harus di awali dengan strecing dimalam hari, supaya meregangkan otot-otot yang lumayan kaku dan tak jarang saling melemparkan lelucun satu sama lain. Yah,, ini lah persaudaraan, semakin sering di ejek dan di hina, semakin sayang yang menumpuk menjadi satu dengan seiring kedekatan emosi.
20.30 saat yang ditunggu-tunggu, penusuran goa dimulai, yeach…. Tentunya ini pertamakalinya bagiku menusuri goa, yang aku tahu didalam sana gelap, setitik cahaya akan terlihat dengan jelas. Masih di mulut goa, berdoa adalah hal yang paling utama sebelum mengerjakan hal apapun, yang pasti meminta ridho dan perlindungan ALLAH SWT. Tentunya, tak hanya berdoa dilengkapi juga dengan usaha melindungi diri sendiri. Berpose berderet menghadap kamera adalah sebuah moment menyenangkan, memasuki mulut goa mengucapkan salam terlebih dahulu dan jangan pernah meninggalkan apapun kecuali jejak, jangan pernah mengambil apapun kecuali foto. Karena alam yang ada memang harus dijaga dan disayangi, bukannya di rusak atau malah disia-siakan. Benar-benar menyenangkan, walau masih di mulut goa aku sudah cukup merasakan ketenangan di dalam kegelapan malam itu, satu persatu ornament-ornamen yang ada di goa itu kami perhatikan dengan seksama, memang indah, dari ornament berbatuan air mengalir sedikit demi sedikit, dan tetunya mendengarkan penjelasan dari abang-abang kami yang selalu siap sedia mentransfer ilmu, ornament-ornamen yang sebelumnya belum pernah kulihat begitu dekat, dan ini semua adalah salah satu dari tak terhingga keagungan ALLAH SWT, betapa ohhh…. betapa, didalam goa sana, dengan aliran air bisa kami telusuri. Sebelumnya kami sempat dengar desas desus kalau di goa sedang banjir, sampai-sampai ada beberapa sodara ku harus memakai pelampung, namun kenyataannya tidak, yah,,, cukup membuat fikiran bertanya-tanya benar atau tidak.
Kami berjalan pelan-pelan, kiri kanan di perhatikan dan tak ketinggalan adegan pose. Aliran air yang cukup tenang dengan dasar pasir dan batu-batuan, hampir setengah perjalaan, kami beristirahat sambil menikmati logistic yang memang sudah dibawa dari jogja, satu persatu logistic dimakan saling mengoper satu sama lain, serta menikmati gelapnya goa tanpa setitik cahaya. Sejenak kami menikmati kegelapan abadi itu, diam, sunyi, dan aku merasa tenang juga damai. Ternyata ada beberapa saudaraku menikmati gelapnya goa sambil tertidur walau tak pulas, hahhaah,,,, tawa memecahkan keheningan sejenak itu dan kembali lagi hiruk piruk suara serta cahaya-cahaya penerangan kami melanjutkan penusuran goa yang memang jalannya belum putus hingga mulut goa. Jalan jongkok menusuri jalan yang sangat pendek bahkan melewati aliran air terjun yang dinginnya air hilang begiu saja dengan banyak bergerak berlari-lari kecil, sambil berenang-renang kecil juga harus merelakan diri dari ujung rambut hingga ujung kaki basah dengan aliran air goa, pelan-pelan tapi pasti menusuri goa, butuh kesabaran, kekuatan untuk bertahan dalam kondisi apapun, dan tak lepas dari semangat yang harus tetap ada sampai kapanpun, walau kaki mulai merasa lunglai, tapi rasa sakit itu hanya ada diotak dan akan pergi begitu saja dengan semangat yang gak boleh putus oleh apapun. Penusuran selama tiga jam tak terasa sudah terlewati, sampai dimulut goa untuk keluar dari goa, satu persatu anak tangga dinaiki hingga sampai kepermukaan tanah dan melewati pipa aliran air tanah dan juga masih melewati jalan yang endek dengan jalan jongkok. Yeachh,,,, pukul 23.00 penusuran goa pun berakhir, istirahat sejenak dan melanjutkan perjalan ke bascame yang ternyata lumayan jauh harus dilalui. Packing dan cek alat hingga pukul 00.15 juga bersih-bersh diri setelah penusuran.
Pukul 00.15 saatnya balik ke posko, pulang ke benderangan cahaya lampu-lampu kota, yang ternyata masih sangat indah setitik cahaya di dalam goa sana, perjalanan yang memang gak begitu jauh, dan terasa dekat lagi kalau perjalanan pulang ketimbang berangkat. Sambil menikmati suasana yang memang bagus untuk di nikmati menembus angin malam menjelang pagi. Pukul 01.07 sampai juga di posko, dan langsung cuci alat, lumayan lah banyak alat yang harus di cuci, hingga pukul 02.15 sambil menceritakan pengalaman-pengalaman saat GC, memang gak ada habisnya kalau bercerita tentang kenangan-kenangan itu semalaman suntuk juga gak ada bosannya, ada yang lucu, atau malah bikin emosi semuanya lengkap menjadi satu bersama sodara-sodara. Sambil menunggu alat kering, pukul 02.15 evaluasi, mengevaluasi seluruh rangkaian perjalanan, dari mulai berangkat dari jogja sampai ke goa cèrme, hingga kembali lagi kejogja. Tentunya banyak mendapat pelajaran baru dalam hidup, pengalaman baru, cerita-cerita hidup baru dan tentunya sangat menyenangkan bagiku, karena setiap langkah kaki adalah perjalanan hidup yang memiliki makna, pelajaran, pengalaman baru. Evaluasi semua rangkaian kegiatan hari itu dan bisa lebih baik lagi saat susur goa selanjutnya. 02.40 evaluasi selesai, dan berakhir lah malam itu, hingga menanti mentari terbit kembali dengan memejamkan mata, serta membawa pengalaman baru dengan bunga-bunga tidur yang indah. Karena kegelapan abadi yang ku temukan di dalam goa tanpa setitk cahaya sekalipun. Bernyanyi lewat lirik yang dirangkai dengan kata-kata Menari jari-jari ku menulis rangkaian kata-kata Menggambar imajinasi mengumpulkan inspirasi merangkai kata-kata Berteriak emosi ku mengalahkan kejenuhan merangkai kata-kata Karena aku akan tetap berkarya Dan aku tak akan berhenti menulis,, menulis,, dan terus menulis
by -Bege- |